Statistik Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday150
mod_vvisit_counterYesterday217
mod_vvisit_counterThis week1570
mod_vvisit_counterLast week1876
mod_vvisit_counterThis month6277
mod_vvisit_counterLast month6865
mod_vvisit_counterAll176406

Home Ringkasan Kotbah Kotbah, 26 Februari 2012
Kotbah, 26 Februari 2012 PDF Print E-mail

Lunas Dibayar
1 Korintus 6:19-20
Oleh: Pdt. Tri Santoso

Kita sering mendengar ungkapan ini dalam kehidupan sehari-hari “Yo ben to awak-awakku dewe kok kowe ribut”. Hal ini dikatakan sebagai respon ketika ia mendapat teguran atau nasihat untuk tindakan atau perilaku yang salah. Hal ini bisa dilakukan oleh anak-anak yang mendapat teguran dari orang tua, saudara, teman, atau sahabatnya. Bisa juga ini dilakukan oleh pasangan suami istri yang sedang bertengkar. Pertanyaannya adalah benarkah bahwa kita adalah pemilik mutlak atas kehidupan yang kita jalani saat ini? Pemahaman yang salah tentang hal ini akan membawa seseorang pada  kehidupan yang seenaknya sendiri dan tidak peduli pada orang lain.

Hal inilah yang didapati Rasul Paulus dalam kehidupan sehari-hari jemaat di Korintus. Mereka larut dan hanyut dalam pola pikir dan pola hidup yang liar seakan tanpa aturan. Pola pikir Yunani yang menganggap tubuh itu hina mereka hayati sepenuhnya untuk hidup dalam percabulan. Mereka menggunakan tubuh mereka untuk memuaskan segala nafsu dalam kehidupan mereka. Mereka tidak menyadari bahwa sebagai orang Kristen hidup mereka harus memiliki pola pikir dan pola sikap yang berbeda.

Rasul Paulus menjelaskan mengapa orang Kristen harus memiliki pola pikir dan pola sikap yang berbeda:

Pertama: tubuh setiap orang Kristen adalah bait Allah. Pemikiran ini didasari pada pemahaman bahwa Allah menyelamatkan bukan hanya jiwa orang Kristen tetapi juga tubuhnya. Tubuh bukanlah untuk percabulan tetapi tubuh adalah untuk Tuhan. Sebagai bait Allah tentu tubuh harus dirawat bukan untuk memuaskan nafsu tetapi untuk dipersembahkan kepada Tuhan.

Kedua: hidupmu bukan milikmu sendiri. Penegasan ini perlu agar jemaat sadar siapa yang berkuasa atas hidup mereka. Mereka dulu budak dosa dan mengabdi kepada dosa. Kini Kristus telah menebus mereka, maka Kristuslah pemilikNya. Kristus telah membeli hidup kita dari kuasa dosa dan membayar dengan darahNya. Harganya telah lunas dibayar. Jadi kita harus menggunakan tubuh kita menurut kehendak Kristus yang telah membeli kita.

Ketiga: muliakan Allah dengan tubuhmu. Inilah seharusnya yang menjadi tujuan yang baru dari setiap orang Kristen yaitu memuliakan Allah melalui tubuh dan hidupnya. Tubuhnya tidak lagi digunakan untuk menuruti hawa nafsu dan diperbudak dosa untuk mengejar kenikmatan sesaat. Segala sesuatu yang diperbuat dengan tubuhnya yang telah ditebus Tuhan Yesus harus digunakan untuk kemuliaan Allah (bandingkan         Roma 12:1-2) Bukan lagi nafsu kedagingan yang kita kejar dan pentingkan, tetapi apa kata roh yang kini kita dengarkan, memimpin dan menghidupi kita. Kita harus memiliki kesadaran dan kerelaan untuk dipimpin olehNya. Maka dalam hidup sehari-hari orang percaya senantiasa memakai seluruh hidupnya hanya untuk memuliakan Allah. Titik. Hal ini tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Pertanyaan yang perlu kita renungkan adalah siapakah yang selama ini kita puaskan dalam kehidupan kita? Pertanyaan ini akan membantu kita untuk menemukan siapa tuan yang sesungguhnya dalam hidup kita. Pada saat yang sama hal ini akan menghantar kita pada kesadaran bahwa Tuhan Yesuslah pemilik kehidupan kita, karena Yesuslah yang telah menebus hidup kita. Selamat memasuki minggu-minggu Pra Paskah.

– TS –